Aku, Kamu, Menikah

Kamis, Maret 22, 2018

Dunia emang sesempit daun kelor ya hhe. Sudah terbukti dengan bertemunya aku dan kamu. Iyaaa, kamu! Kamu yang dulu selalu aku bayangkan seperti apakah kamu wahai suamiku. 

Kalau di ingat lucu sekali sih hhe. Gimana enggak lucu, aku yang dulu gak mau sama berondong malah sekarang jodohnya sama berondong (LOL). Iya, aku sama sekali gak tertarik dengan pria di bawahku, bahkan sepantara denganku pun aku juga tidak tertarik. Sok-sok an banget ya kesannya aku hhe (peace). Bukan begitu guys. Jadi, aku adalah anak terakhir dari 3 bersaudara. Aku merasa perlu orang yang menuntun aku (ngemong) dan menurutku itu ada pada orang yang umurnya di atas aku. Padahal kan ya gak gitu juga kan ya aslinya hhe. Dulu memang pemahamanku masih kurang bener sih. Harusnya kan "don't judge book by it's cover"  ya.

Aku dan kamu adalah sosok yang berbeda, sama-sama tidak menyukai satu sama lain. Mungkin ini yang namanya "Tresna Jalaran Saka Kulina" dalam Bahasa Jawa, jika di Bahasa Indonesia kan menjadi " Suka karena terbiasa". Atau mungkin ini ya bukti dari "Ojo gething, mengko malah nyanding" dalam Bahasa Jawa, jika di Bahasa Indonesia kan menjadi "Jangan membenci seseorang nanti ujungnya malah jadian". 

Awal mula kita gak usah dibahas ya, malu critanya hihi. Awal yang kutahu kamu adalah sosok yang mudah bergaul dan aku rasa kamu bisa tegas kalau ke aku, kamu tahu baik buruk ku saat itu, selebihnya aku gak tahu apa-apa tentangmu.

Sedikit flashback ya. Sebelum bertemu denganmu aku sudah lama sih gak menjalin hubungan. Banyak alasan mulai dari gak minat, fokus sekolah, pengen sendiri aja dulu (ya meski hampa juga ya sendiri mulu haha), cuek (nurutku sih, ya gak tau lagi nurut orang lain), gak pandai memikat hati pria biar tertarik ke aku (dasarnya gak menarik sih ya hhe), banyak lagi sih alasannya dan paling utama pengen yang buat srius aja. Ah~ kebanyakan alasan ya aku ini.

Ntah kenapa saat denganmu rasa yakin itu ada. Aku tahu ini sangat berat untukmu karena usiamu saat itu masih 20 tahun dan kita masih baru mengenal. Namun tiada romantis atau apa aku malah bilang kalau mau denganku ya kamu bakal jadi yang trakhir, aku maunya ntar kita sampai nikah. Dan kamu sanggup dengan permintaanku itu. 

Aku tipe orang yang serius, sejalan waktu aku mengenalkanmu dengan keluargaku. Kamu mengenalkanku pada keluargamu juga. Mungkin di awal ortuku menganggap harusnya aku mencari orang yang umurnya tidak di bawahku. Ya, maklum lah aku anak terakhir juga dan khawatir nanti malah aku yang momong (malah faktanya berkebalikan hhe). Tapi, semua pandangan itu berubah saat kamu bertemu langsung dengan keluargaku. Kamu berbeda dengan pria usia 20 yang ada di pikiran mereka dan kamu mengimbangiku (lebih malah).

Step by step kita jalani mulai dari awal mohon restu ke ortuku untuk menikah, lamaran, persiapan pernikahan 2 bulan setelah lamaran, sampai akhirnya moment yang ditunggu yaitu ijab qabul dan dilanjutkan dengan pesta pernikahan sederhana di Malang. Alhamdulillah~

Terlihat bahagia dan mulus sekali ya alur ceritanya? Hhe

Kami jelas bahagia karena telah sah. Eits, guys jangan memandang "enak ya bahagia banget", sebenarnya dalam prosesnya itu dramatis banget. Gak usah disebutin lah ya dramatisnya gimana, soalnya bakalan panjang critanya hehe. Namanya mau lanjut ke jenjang pernikahan pasti ada-ada aja godaannya. Di awal sudah di wanti-wanti oleh keluarga dan sahabat bahwa kita harus sabar di persiapan menuju pernikahan. Wejangan sana-sini kita terima.

Menikah adalah harapan semua orang pastinya. Yee kan? 

Menikah adalah suatu step dimana untuk menyempurnakan agama.

Menikah bukanlah kompetisi dimana semakin cepat kamu menikah diantara temanmu maka akan terlihat "wah".

Menikah bukanlah karena sudah banyak temanmu yang telah menikah.

Menikah bukanlah karena telah merasa kesepian tidak ada pasangan untuk kencan atau apalah.

Menikah itu perlu komitmen. Yakinkan tujuanmu dalam menikah itu apa. Eits, jangan asal yakin aja, lakukan dengan action nyata juga. 

Menikah itu bukan akhir dari perjalanan kisah cintamu. Bukan hanya sekedar terbebaskan dari status jomblo dan mengakhiri kegalauan penantian akan jodoh. Jangan mengibaratkan seperti cerita dongeng dimana sang putri dan pangeran yang kemudian menikah-bahagia-the end. Bukan guys, bukan itu semua.

Menikah adalah awal dimulainya kehidupan baru dimana kita akan mengarungi laut kehidupan rumah tangga. Dimana pasti akan menghadapi pasang surutnya kehidupan.

Menikah bisa di ibaratkan kita sekolah. Dimana setiap periode ada ujian dimana untuk mengukur nilai dari diri kita dan untuk kenaikan kelas.

Pesan untuk kalian yang belum memasuki tahap ini adalah sabar ya guys :) setiap orang pasti ada masanya masing-masing kok. Gunakan waktu selagi menunggu untuk memperbaiki diri, mempersiapkkan diri, berkegiatan positif, jangan lupa berdoa dan ikhtiar ya guys :) 

Ada kutipan dari web rachelvennyaisodd.com yang aku suka :

kalo aku berdoa dan hidup positif, apapun yang terjadi kamu akan siap dan ngerasa bahwa itu semua rencana Tuhan, jangan takut berharap dan jangan jatuh kalau semua jauh dari harapan, cuma ada dua kemungkinan, "di kabulkan atau di ganti yang lebih baik"



Nia Novitasari

You Might Also Like

0 komentar